Tentang Rumah Bambu

rumah bambu adalah tempat bekerja menggunakan konsep haibun. penikmat sastra dipersilahkan mampir.

22 Desember 2008

riuh bensin turun

Ada kegembiraan beberapa hari lalu. Harga bensin dan solar diturunkan. Ada sedikit harapan: tarif angkutan umum juga ikut turun. Secuil perbaikan pada cashflow rumah tanggaku.

Kenyataan sungguh pahit, tarif angkutan tidak serta merta turun seiring penurunan harga bahan bakar minyak; tentu saja dengan alasan yang sangat masuk akal. Bahkan LPG kemasan 3 kg pun langka. Lalu aku pun hanya bisa memaklumi saat wapres mengakui adanya kelemahan dalam keputusan konversi minyak tanah ke LPG. Lebih tajam lagi komentar menteri Energi dan Sumber Daya Mineral : pemerintah kedodoran dalam distribusi...

kopi tubruk
nikmat samarkan sangit...
hilangnya minyak

18 Desember 2008

sepatu vs wajah

Sepatu letaknya paling bawah, sangat dekat dengan perkara-perkara kotor. Maka dia selalu ditinggalkan di luar bila kita ingin masuk ruangan yang bersih dan pemilik ruangan itu sangat kita hormati.

Wajah berada di atas, dilengkapi dengan bermacam indera untuk mengenali dunia. Di puncaknya sering bertengger mahkota kemuliaan. Dialah jendela kemanusiaan.

Namun, di Irak, wajah Bush dilempari sepatu. Jelas ini penghinaan besar. Apalagi itu dilakukan oleh seorang jurnalis yang dalam tuntutan profesinya selalu menghargai dua pihak, dengan kata lain: tidak memihak. Aku mengerti kekesalan sang jurnalis. Sangat mengerti.

lahad basah:
pembunuh dan korbannya
baku damai

Bush jumawa dengan perkataannya setelah dilempari sepatu. Cuma di satu tempat saja ia bisa diampuni.

12 Desember 2008

puas

Seorang pengusaha sukses, yang telah berkali-kali menyelamatkan sejumlah perusahaan yang terus merugi menjadi perusahaan yang membukukan laba besar, mengaku rindu suasana tenang pedesaan. Tiada stres, katanya. Dia ingin menikmati sisa hidupnya setelah mampu berpenghasilan seratusan juta tiap bulan. Dua anaknya pun mampu merantau sampai benua Eropa. Tidak ada lagi yang dua cari.

malam hangat:
nyenyak tanpa nyamuk
usai pesta kupat

Keterpencilan tinggal di hutan kecil ternyata berbuah manis: yang kudapat hari ini ternyata sangat tinggi nilainya! Untuk mendapatkan suasana dekat dengan alam butuh perjalanan sangat panjang: menjadi pengusaha sukses terlebih dulu. Sementara aku hanya perlu merasakan saja keberadaan di hutan kecilku...

11 Desember 2008

pergi dari rumah

Berita menggembirakan: seorang kawan memutuskan menjual sepeda motor kesayangannya untuk membayar uang muka rumah sederhana. Pada saat itu dia sudah berputri umur 3 tahunan. Sebuah keputusan tepat menurutku.

rumput angin
bebas tanah jerap lembab...
hidup mandiri

Selama ini dia dan keluarganya hidup seatap dengan mertua. Tentu dengan segala konsekuensinya. Tiga tahun lamanya dia harus mengalami ketidaknyamanan sehingga akhirnya dia membuat keputusan itu. Memang, jarak (umur,pengalaman) antara dia dan mertuanya terbentang sangat jauh. Dan itu bukan kesalahan siapa-siapa,keputusan harus segera diambil supaya konflik yang tidak perlu di masa depan gugur dengan sendirinya.

Aku ikut berbahagia sambil menanti undangan makan-makan atau mendapat kiriman kue-kue darinya...

10 Desember 2008

aliran perubahan

Pemimpin bisa saja silih berganti. Saling memberi warna baru pada organisasi,memberi harapan pada wajah-wajah letih yang putus asa

sungai keruh
deras penuh lumpur...
tawa di hulu

Pemimpin baru memang membawa perubahan. Mimpi-mimpi anak buah dihidupkan lagi,pun cita mereka yang sempat kandas mampu berlayar lagi. Masa depan kembali cerah.

Bagi beberapa orang perubahan itu sebagai cambuk:mereka bekerja lebih disiplin dan mempertontonkan kinerja super. Dan dengarlah,ada decak kagum saat tahu bahwa semua itu singkat umurnya. Daya tahan minim dan cambuk –kali ini cambuk sungguh- akan kembali dilecutkan.

05 Desember 2008

pagi

Barangkali akibat perasaan tidak enak,setelah merasakan peluang terjadinya sandyakala perusahaan, sahabatku mulai rajin menulis,membaca;pendeknya kembali mengunyah kata-kata. Seolah energi untuk kreatif menulis kembali muncul

Aku ketularan energi itu Di saat bersamaan,aku terantuk kolom Jalaludin Rahmat di Tempo 12 Oktober 2008. Ia mengutip Dostoyevski, The Brother Karamasov: “Ada tiga kekuatan,dan hanya tiga yang dapat menaklukkan dan melumpuhkan semangat para pemberontak ini: mukjijat, misteri dan otoritas,”

tajuk resik
kerlip nur keemasan
:kemenanganku

Benar,ketiganya memang mampu melumpuhkan. Mari kita periksa. Saat bangun pagi,kita disadarkan bahwa ada otoritas di luar diri yang mampu menggugah kita dari tidur;itu jelas mukjijat,karena tak terperi dan merupakan misteri karena tak terselami. Mengapa kita bangun dari tidur?

Dan aku akhirnya menyerah. Kuberikan hidupku hari itu pada penyelenggaraanNya. Sebagai ciptaan,aku hanya berkewajiban melakukan yang terbaik untuk membayar hari baru yang dianugerahkan padaku. Hasil dari jerih payahku bukanlah milikku. Pemberontak,yang tak lain aku sendiri,bahkan tidak punya otoritas sama sekali.

04 Desember 2008

mendamba air

Akankah si miskin tertarik pada pencarian hakikat hidup seperti yang dilakukan eksekutif muda berkelimpahan di kota-kota besar ketika mereka kehilangan makna hidup?

mahoni besar
gugur dedaunnya...
aku haus

Semestinya,sama dengan kaum urban sukses itu,si miskin tidak punya keterikatan besar kepada benda-benda. Fokus mereka akan beralih ke perkara-perkara rohani yang transenden.

Namun harus disadari: apa yang semestinya amat berbeda dengan apa yang senyatanya! Kaum miskin sangat disibukkan dengan urusan mengisi perut,bahkan harus mempertaruhkan nyawa untuk itu.

Alangkah indahnya, dalam kemiskinan Tuhan dapat ditemui. Seandainya...

28 November 2008

krisis ekonomi

Kembali krisis menerpa Indonesia. Harga-harga melambung membuat daya beli berada di bawah telapak kaki. Kesulitan tak tertanggungkan harus dipikul kebanyakan rakyat Indonesia. Kasus-kasus kejahatan meningkat:pencurian,perampokan... Tidak ketinggalan,kasus gizi buruk balita akibat kemiskinan orang tuanya.

api damar
gantikan kilau neon:
ke masa lalu

Para petinggi pemerintahan terus menebarkan optimisme, sesuatu yang dibutuhkan untuk bertahan dan berhasil melangkah di tengah kesulitan. Malah yang terakhir, SBY menghadiri pertemuan G 20 membahas krisis ekonomi global dan menemukan obatnya.

Bagiku,yang merasakan dampak paling nyata dari krisis ini –dompet cepat terkuras- upaya para petinggi itu tenggelam dalam hiruk pikuk keseharian: wira-wiri cari duit.

siang sibuk
terdengar kepak sayap
seekor capung

26 November 2008

derita bocah

Seorang anak,berumur belasan tahun,merasa tidak diperhatikan orang tuanya yang sibuk bekerja mengumpulkan uang.Sebuah perkara lazim bagi orang tua. Namun anak melihat lain:tiada cinta untuknya. Lingkaran setan yang itu-itu lagi,tak ada yang bisa memutus. Ada kemungkinan si anak sedang mencoba untuk mematahkan lingkaran itu.

termangu geram
:seumur hiduplah jarak
ke pintu rumah

Menghadapi si anak,aku tentu berdiri sebagai orang tua.Menjelaskan secara rasional tentang alasan mengapa harus bekerja keras meninggalkan rumah. Kupaparkan pula, tak ada pilihan,selain meninggalkan rumah,mengabaikan dia sebagai anak yang merasa tidak dicintai. Tentu aku sadar,keputusan itu pasti menimbulkan konsekuensi di masa depan. Konsekuensi yang belum pasti menggembirakan.

selapan tiba!
bilang selamat datang
pada hujan

25 November 2008

sembilan

“Dari 1 sampai 10,tunjukkan penilaianmu terhadap puisi ini,” kata pemilik blog kepada para pengunjungnya. Jelas ia meminta umpan balik atas kerja kerasnya berpuisi. Ia pun membentang kualitas yang harus dipilih: buruk sampai sempurna.

Sebelum ikut menilai,aku mempertanyakan: adakah sempurna dan buruk dalam berpuisi? Aku lantas ingat ada seorang tanpa lengan mampu melukis dengan baik menggunakan kakinya. Ada juga pianis Korea yang bisa bersimponi dengan jari tangan tak genap... Buruk dan sempurna,apakah bedanya?

cucian lembab-
gerah susul hujan
di mana angin?

Akhirnya kupilih angka 9 untuk puisinya: sebuah penghargaan untuk keringatnya berpuisi.

24 November 2008

malam perak

Peralihan musim kemarau menuju musim hujan –sesekali waktu dalam hidupku- meninggalkan jejak visual yang mengagumkan. Malam itu, masih di sekitar pukul tujuh, aku harus kembali ke mess setelah kunjunganku ke perkampungan selesai. Deretan rumah, yang terang lampunya menebarkan kehangatan, ada di sisi kiri dan kananku. Mengawal.

Biasanya di batas desa,aku akan segera menyalakan senter karena ada hutan kecil di depan. Tidak! Kali ini hutan kecil itu mengkilap karena gerimis pekat sorenya. Kini jalanku di terangi pepohonan.

Bulan penuh
Akankah terlewat
Tanpa pantun cinta?

22 November 2008

cermin

Pernahkah para orangtua menyadari,kepribadian anaknya hari ini adalah buah dari keputusan-keputusan mereka di masa lalu? Umumnya lingkunganlah yang menjadi kambing hitam kenakalan anak muda.

tangis kuat-
cek popok dan dosa
bapak ibunya

Jangan hanya melihat anak panah Gibran yang sudah lepas dari busur menuju takdirnya; tengoklah pula lengan kuat yang menarik tali busur dan mata tajam pemilik lengan yang menentukan sasaran.

Gibran benar tentang orangtua yang hanya menjadi bidan bagi takdir sang anak. Kita mungkin keliru saat berpaling dari fakta, kepribadian anak tak bisa lepas dari orangtua.

21 November 2008

geliat ego

Rasanya ada penyakit berbahaya yang menjangkiti hampir di tiap lapis masyarakat,dari yang terbawah sampai yang teratas: gemar melempar tanggung jawab. Penyakit ini muncul bila ada ketidakberesan dan kondisi itu menuntut penyelesaian. Biasanya,tidak ada jawaban atau penyelesaian segera, selain pengakuan tidak mampu. Celakanya tidak ada yang berani mengaku.

Memang sulit mengakui kekurangan diri sendiri. Bahkan untuk orang-orang yang sudah sadar dirinya dekat dengan Tuhan. Mungkin hanya ada satu dari seribu yang mampu melakukannya. Siapa sih mampu melihat tengkuknya?

kebon tersingkap
coklat kering tanahnya:
geliat si cacing

20 November 2008

bukan milikku

Selagi bermimpi belum dilarang, aku memimpikan waktu bisa diputar ulang. Aku lulus dengan predikat cum laude dari universitas ternama lalu bekerja di perusahaan besar; tentu dengan gaji besar pula.

Maka otomatis aku mampu menikah dengan gadis tercantik, terpandai, mempunyai keluarga ideal dan tidak terlilit masalah keuangan.

Saat terasa perut mulas, aku tersadar, semua itu bukan untukku.

di panti jompo
mawar, lili mekar
sedu sedan nenek

sia-sia

Seorang teman duduk di hadapanku, tampak cemas. Aku bahkan sampai tak berani menduga apa yang dia cemaskan. Tapi kusengaja diam, menunggu dia membuka cerita.

“Aku susah mendapatkan pacar….” Akhirnya dia mengaku.

Ganteng, penampilan dan bicaranya meyakinkan, punya pekerjaan tetap… mustahil dia sulit menemukan jodohnya.

“Apa yang kamu takutkan?” tanyaku.

“Setelah menikah nanti bagaimana? Serba gelap.”

Dengan mengatakan demikian, sebenarnya dia telah mengakhiri pembicaraan. Sebab, bila dia takut pada konsekuensi pilihan, Tuhan pun tidak bisa membantu.

belalang timpang
bertahan pada dinding
ajal mengintip

17 November 2008

ilusi

Hampir tiap tahun, teristimewa menjelang lebaran, saya disuguhi pemandangan yang mengesankan. Orang-orang tumpah ke pasar dan pusat-pusat perbelanjaan; mungkin menghabiskan tabungan selama setahun untuk kebutuhan yang tidak terlampau mendesak, apalagi dalam kondisi perekonomian yang lesu. Seolah daya beli masyarakat tidak pernah turun. Sungguh membesarkan hati.

kilau mal megah
tunduk syukur pengamen
berbaju baru

15 November 2008

hidup miskin

Setelah tragedi zakat di Pasuruan, media massa sepertinya berebut meliput acara pembagian zakat. Untung tragedi itu tidak berulang di tempat lain. Terasa sangat ironis, peristiwa rutin yang membahagiakan harus berakhir dengan duka.

Saya lantas membayangkan peristiwa beberapa bulan sebelumnya saat orang harus antre dan berebut minyak tanah. Tentu saja media tidak mencatat rasan-rasan, gunjingan dan adu mulut para pengantri minyak.

Bahkan setelah itu saya lantas teringat tahun 60-an: juga masih tentang antrean panjang orang mendapatkan kebutuhan hidup. Rentangan waktu yang tercipta sepertinya tidak memberi perbedaan berarti, hanya setting yang berubah.

Dan hidup terus berlangsung...

bayi merah
hangat mentari pagi
dan senyum ibunya

14 November 2008

ibu

Mungkin hampir tiga per empat umur saya meremehkan ibu. Ya, keseluruhannya: dari penampilan hingga pendidikan, dari masa lalu hingga impian-impiannya. Luar biasa jahatnya saya ini!

Setelah anak pertama lahir dan merasakan betapa letih merawat bayi, melihat bagaimana istri pontang-panting gantikan popok dan mencucinya, menyusui...saya makin merasa berdosa.

lahir ke mati
selalu hadir menemani:
jarit bunda

13 November 2008

bergegas

Hampir tengah malam saya mendapat telepon dari istri untuk segera pulang. Istri sedang menuju ke rumah sakit untuk melahirkan. Sangat kesakitan ia dan butuh seorang teman.

Saya menunggu waktu. Gelisah. Teman yang saya mintai tolong untuk mengantar ke halte angkutan umum baru bisa setelah sahur. Maklum, saya tinggal di mess yang letaknya terpencil. Selepas maghrib hanya ada ojek. Kendaraan pribadi saya tidak punya.

Akhirnya selepas sahur saya bisa ke halte itu. Bukaan istri saya sudah delapan. Di tengah perjalanan menuju rumah sakit, ponsel berbunyi. “Pak, istri Anda harus dioperasi cesar untuk menyelamatkan janin dan ibunya,” jelas dokter kandungan istriku.

Otak saya bilang, “Di mana aku bisa mendapatkan uang?” Namun mulut saya serta merta menjawab, “Baik, Dok, saya setuju!” Ada yang jauh lebih berharga dibanding biaya operasi…

buah-buah tangan
berebut pulang
temui cinta

11 November 2008

rapim

Dalam tiap paparan, nada optimis dan positip selalu muncul. Begitu umumnya dalam pertemuan bisnis. Angka-angka dipertontonkan untuk menegaskan bahwa semua sudah berjalan sesuai perencanaan.

Begitu direktur mengucapkan terima kasih, staf yang menghadiri rapat bertepuk tangan dan mulai menyesap minuman yang tadi, selama paparan, tak tersentuh.

Paparanku juga diterima dan mendapat pujian. Artinya: kontrak kerja untuk periode berikutnya aman. Aku aman.

Hati kecilku berkata, “Itu inti pertemuan hari ini.”

rapat pimpinan
soal untung dan prospek:
aku!

panik

Saat bos besar datang dan mengetahui ada ketidakberesan, anak buahku sudah langsung sadar bahwa akan segera mendapat perintah langsung untuk mereka.

“Lakukan ini!” atau “Cepat kerjakan itu!” adalah teriakan yang biasa keluar dari mulutnya tiap kali melihat ketidakberesan. Sepertinya dia yakin ketidakberesan akan segera teratasi.

Tiga hari kemudian, ketidakberesan yang sama kembali muncul karena yang diatasi bos besar cuma gejala, bukan inti persoalan. Lagipula, respon bos besar tadi hanyalah kepanikan.

keluh terbilang:
ditagih sini utang sana
dapur berserak

10 November 2008

thr

Amplop gaji belum kubuka, berharap-harap cemas akan mendapat tunjangan hari raya. Lumayanlah, untuk membantu pembiayaan kontrol istri ke dokter kandungan. Ke kamar amplop itu kubawa. Tebal terasa di tangan

“Mas, thr enggak turun bulan ini! Perusahaan sedang alami kesulitan keuangan,” ujar seorang teman sewaktu kami berpapasan di jalan.

Langitku jadi kelabu.

daun goyang
debu larut terhambur
juga impian

haiku Indonesia?

Akhirnya aku menemukan penyair indonesia yang menulis haiku: Nirwan Dewanto, meski cuma 12 haiku. Apakah puisi Nirwan itu benar-benar haiku,sungguh aku tidak ambil pusing. Yang lebih penting bagiku, adalah kenyataan bahwa haiku bisa berkembang sampai sedemikian jauh. Namun aku tidak memilih haiku kontemporer itu sebagai bentuk ucapan puitisku.

Kenikmatan menulis haiku sebenarnya bukan terletak pada hasil akhirnya sebagai puisi,namun pada proses menulisnya. Observasi,rasa dan bahasa mencapai titik puncaknya. Dan itu bersumber dari kesederhanaan hidup sehari-hari.

Perasaan itu terwakili dari haiku Gabi Greve berikut:

haiku season
my everyday lives
become poetry

28 Agustus 2008

Hujan Salah Musim

"Udan salah mangsa" begitu jawab ibu atas pertanyaan saya di masa kecil dulu."Katanya kemarau, kok ada hujan?" kala itu yang saya tahu adalah mustahil ada hujan di musim kemarau. Tentu saja itu jawaban yang sangat tepat untuk anak seusia saya; masih TK. Baru kemudian saya tahu, yang membedakan musim hujan dan tidak adalah jumlah air yang ducurahkan dari atas. Sehingga tidak mustahil ada hujan di musim kemarau.

hujan kemarau
riuh anak renangi kedung
byur,byuurrr

Pada akhirnya, hujan salah musim, sebagaimana jawaban ibu di atas, terngiang kembali. Hujan turun di hutan kecil yang melingkungi kamar saya. Bau tanah, hawa segar dan suara air yang lumayan banyak jatuh di kedungdandang karena di hulu mungkin juga turun hujan, membuat kenangan saya muncul kembali. Ibu.

Hujan salah musim, menjadi pelepas rindu. Rindu pada apa dan siapa saja. Ketika saya merasa ditinggalkanNya, hujan salah musim menjadi tanda bagi saya agar saya menjadi lebih sabar, tekun dan tahu berterima kasih pada segala rahmat yang terlihat amat sepele.

27 Agustus 2008

Salah siapa?

Meski tinggal di hutan kecil, angin musim kemarau terasa begitu kering. Seolah-olah tajuk pepohonan tinggi tidak cukup memberi kelembaban guna mengalahkan panas yang dibawa kemarau. Sulit dibayangkan bagaimana kemarau dialami oleh penduduk kota besar yang sudah kehilangan taman. Mungkin pelarian mereka adalah kamar tidur berpendingin udara....

desau kemarau
ombang-ambing daun mati
di kubangan satu-satunya

Di televisi ada berita menyebutkan, orang harus menempuh perjalanan berkilo-kilo meter untuk mendapatkan air bersih. Yang bisa mereka bawa pulang mungkin hanya 10 sampai 15 liter. Suasana kemarau ini bisa melukiskan betapa kering kehidupan batin orang. Ketika bahan-bahan pangan melambung tinggi, kehidupan batin terpengaruh: iri, benci, egois tumbuh meruyak seperti tanpa kendali. Kalau perasaan saya ini benar, maka tidak lama lagi kita akan menyaksikan kebudayaan kematian. Saya berharap perasaan saya salah.

22 Agustus 2008

Kekuasaan

Kekuasaan dan mencipta bisa diibaratkan sebagai induk dan anak. Tanpa kekuasaan manusia tidak akan mampu kreatif; dan itu menyalahi kodratnya. Sebab sedikit atau banyak, manusia punya bekal dariNya dan sangat mulia: bisa mencipta.

Tentu sangat keliru bila kita tidak melihat kreatifitas manusia tanpa memandang bayang-bayangnya: kehendak mengendalikan. Saya mengalami betapa orang-orang kreatif sangat berhasrat mengendalikan banyak perkara dalam dua tangannya. Bekerja sama dengan mereka benar-benar meletihkan, sering saya tidak tahu ke mana arah kreatifitas mereka. Mereka begitu sibuk mengumpilkan informasi, menatanya lalu membongkar lagi puzzle yang sudah jadi itu dan memulai lagi dari awal. Seorang sahabat yang bersama saya dalam tim yang dipimpin oleh seorang kreatif dengan kenes berkata: "Capek deh!" Saya geli.

lempung basah
liat meliuk bentuk
gerabah si pencipta

Kegelian saya makin menjadi saat beberapa minggu kemudian sahabat saya itu mengubah komentarnya. Kali ini dia memuji, "Dia memang hebat."

Ya. Kita memang harus sabar menunggu buah kreatifitas mereka yang sangat kreatif itu. Tapi saya membayangkan, lebih baik mereka ini jangan jadi organisator karena mereka pasti bikin repot.

Anda boleh tersenyum...

21 Agustus 2008

Memberi

"Mengapa kamu menulis puisi di internet? Tidak takut dibajak?" teman saya menggugat keputusan saya. Memang di infotainment beberapa minggu lalu ada ribut-ribut tentang kelompok artis membajak sebuah lagu yang dipublikasikan ke internet. Teman saya melanjutkan sambil cengengesan, "Coba pikirkan andai puisimu itu diterbitkan di darat." Saya cuma tersenyum, soalnya memang saya butuh duit. Lha, siapa yang tidak?,

Saat menimbang-nimbang untuk memutuskan berhenti menulis di internet, saya teringat hubungan mesra antara matahari dan tanaman. Tanaman tidak punya kuasa apapun untuk membalas budi matahari. Sebaliknya, matahari tidak menuntut apa-apa pada tanaman. Menurut saya itu sebuah hubungan yang tidak seimbang. Bahkan matahari tidak berbuat sesuatu tatkala tanaman memilih menghindarinya. Matahari selalu memberi, termasuk memberi peluang menolaknya.

grimis di kali
kricik-kricik atasi batu
tuju takdirnya

Saya agaknya harus bangga andai ada pihak yang membajak puisi saya; apalagi puisi saya itu pada akhirnya mampu juga menghidupi keluarga si pembajak. Ya, saya temukan sebab kenapa saya harus bangga : takdir manusia adalah memberi. Jadi, oleh karenanya, sebetulnya manusia tidak akan pernah berkekurangan.

Demikianlah saya tetap menulis di sini.

20 Agustus 2008

Senja

Andai saya sebagai orang tua, saya akan bertanya pada diri sendiri: "Apa yang telah kusumbangkan pada dunia?" Tapi pertanyaan itu tidak muncul di permukaan, hanya dalam batin. Sebab, kemungkinan besar, jejak saya di dunia ini hanya pertikaian dan debat kusir. Ya, saya hanya menyumbangkan debat kusir! Kalau sudah begitu, kalimat tanya tadi makin terbenam ke bawah sadar. Sementara di luar, saya menyaksikan senja yang begitu indah.

tebaran jingga / iringkan susut kala / kalong berburu !

Ternyata bukanlah jejak yang perlu saya wariskan. Biar jejak itu hilang disapu hujan. Saya hanya perlu mewariskan cermin: ada kehidupan baru yang mengantri di depan saya; dan saya tidak punya secuil kuasa pun atasnya.

Hari ini, selagi masih muda, saya melihat senja dengan sudut pandang baru: senja bukanlah permulaan dari akhir, tapi awal menuju hidup baru.

14 Agustus 2008

Hutan Bicara Lagi

Bukan rahasia bila hutan-hutan kita sudah banyak berkurang. Gundul. Buktinya sudah dirasakan di banyak tempat. Bahkan polisi sudah menyatakan perang kepada para pembalak liar. Juga tidak bisa di pungkiri hutan pelan-pelan akan habis untuk menghidupi manusia. Saya hanya mengamini dan menggumam, "di mana lagi akan kutemui hatan?"

Tak dinyana, hutan justru saya temui saat mengapresiasi haiku di internet. Terasa sekali denyut alam dalam haiku-haiku para penyair itu. Lalu saya pun mengambil tempat, memutuskan untuk konsisten menulis haiku dibanding bentuk-bentuk puisi lainnya.

dunia maya / alam mewujud / di baris haiku

Teman-teman di kemudian.com pasti maklum pada pilihan saya. Kesederhanaan, jujur dan hemat kata, itulah yang saya petik dari dunia haiku.

13 Agustus 2008

Tenang dalam Hiruk Pikuk

Tiap pagi, sehabis membuka pintu kamar dan menghirup udara pagi yang segar, saya selalu membatin,"Keriuhan apa yang akan muncul di hari ini?" Seakan saya akan menghadapi keriuhan pasar setelah beberapa langkah meninggalkan kamar.

meringis taring/gelut anjing kucing/cuma tulang kok!

Kehidupan di depan kamar, saya lihat sebagai anjing dan kucing bergelut memperebutkan tulang. Pergulalatan hidup manusia-manusia seperti saya penuh pertarungan: gengsi,harga diri,ego,kepentingan. Riuh. Mengingatkan saya pada gonggongan dan eongan dua binatang sedang berhadapan untuk sebuah tulang yang tersisa.

Hinakah pergulatan itu?

Tentu saja tidak. Hewan, pun manusia purba, berjuang untuk memperoleh makanan agar mampu meneruskan kodratnya sebagai mahluk hidup. Manusia modern sekarang, tidak cukup hidup dari makanan. Mereka -dan juga saya- juga memuaskan ego, gengsi dan harga diri agar bertahan hidup.

Setelah membaca puisi pendek di atas, saya tersenyum geli pada diri sendiri.

12 Agustus 2008

Harapan

Kejadian luar biasa terjadi di dekat jedela kamar saya pada permulaan musim hujan lalu. Di hamparan tanah yang tertutup rontokan dedaunan bambu, muncul tunas-tunas tanaman yang tidak saya kenal namanya. Tiga hari kemudian, saat tunas-tunas itu menampakkan daun-daun pertamanya, muncul tunas-tunas yang berwarna-warni. Lagi-lagi saya tidak kenal mereka. Saya harus membutuhkan banyak waktu mencari di perpustakaan setempat supaya tahu nama mereka. Saya gagal.

Yang teringat, hanya butuh sehari hujan deras untuk menyaksikan alam yang begitu indah! Tentu butuh kepekaan pula karena keindahan itu sangat mudah dilewatkan begitu saja. Saya merasa seperti katak yang menanti datangnya hujan. Ya,sebuah baris sajak mengatakan, katak tahu hujan pasti datang. Tapi kapan, tanya saya. Jawabnya hanya menunggu dan berharap. Bila hujan datang, berilah pujian kepada alam, seperti juga katak yang pasti bernyanyi bila hutan basah kena hujan.

tunas-tunas muncul / warna-warni muka tanah / hujan perdana

Puisi tiga baris ini tercipta begitu melihat lukisan alam di bawah jendela kamar saya tadi. Tentu saja bukan sekali jadi. Penulisan ulang puisi itu terjadi saat saya merenungkan lagi puisi karya erri, salah satu penulis puisi di situs kemudian.com. Puisinya sangat berlawanan nadanya dengan puisi pendek saya. Lantas saya memutuskan mengirim puisi itu ke situs itu dengan harapan erri akan membacanya. Alam, sebagaimana manusia, selalu berubah: sedih dan duka selalu berganti. Saya berharap erri makin bersemangat, menulis puisinya dan mengetahui bahwa dia akan menemukan terang, bukan hanya tiangnya saja.

11 Agustus 2008

Rendah Hati

Beberapa minggu lalu,Jawa Timur gegap gempita oleh Pilkada. Kampanye para pemimpin daerah menyemarakkan suasana di perkotaan di seluruh penjuru. Bukan hanya kota, hiruk-pikuk kampanye bahkan sampai jauh tinggi ke pegunungan Tengger. Kota dan desa bagai album foto.

Sudah tentu yang ditawarkan adalah janji. Semua janji mengarah ke perbaikan taraf hidup tiap penduduk. Saya berpikir, andai para kandidat itu jadi pemimpin secara kolektif, Jawa Timur pasti menjadi propinsi yang paling hebat. Eh,tiba-tiba menyeruak berita bahwa suara golongan putih melebihi separoh jumlah pemilih. Saya hampir tidak percaya.

azalea gugur/ petir menyambar bersama air / keindahan mencium tanah

Namun itulah kenyataannya. Akan ada pemilu ulang untuk menentukan siapa yang bakal duduk sebagai pemimpin Jawa Timur. Kembali saya akan menyaksikan pamflet dan poster yang memberi janji.

Hanya waktu yang akan menguji janji-janji yang telah ditebarkan. Biarkan janji itu tumbuh dengan sendirinya, menghasilkan bunga-bunga yang indah. Biarkan banyak orang mengagumi dan berceloteh memujinya. Saya teringat betapa riuhnya komentar ibu-ibu mengagumi keindahan warna-warni bunga di sebuah kios bunga. Keriuhan itu berakhir dengan senyum puas pemilik kios yang bunganya laku keras. Saat hujan deras turun, pohon azalea berduka: mahkota bunganya rontok satu-satu. Hanya beberapa saja yang tersisa.

Rombongan ibu-ibu pergi dengan wajah riang karena hujan reda. Mereka membawa sesuatu yang indah untuk disematkan di rumah. Tapi pohon azalea merana sendiri. Dia harus bekerja keras lagi untuk menampilkan keindahan bunga-bunganya. Sama halnya dengan janji yang telah ditebar... mahkotanya yang indah akan rontok, bukan karena dirinya sendiri, melainkan kekuatan mahadahsyat yaitu: waktu.

09 Agustus 2008

Kesadaran Baru

Setelah memutuskan membuat sebuah blog, saya sadar telah menempatkan diri sebagai selembar kertas di tumpukan berkas di sebuah lemari besar. Artinya, saya mengaku diri bukan siapa-siapa dan butuh kerja keras agar banyak orang mengetahui keberadaan saya. Termasuk karya-karya tulis saya.

Hari ini, saya memperkenalkan diri. Belum banyak yang bisa saya sumbangkan pada dunia. Namun saya sungguh berharap, kehadiran saya akan sedikit bisa memberi perbedaan. Selembar kertas, keberanian mengakui bahwa diri teramat kecil adalah modal untuk menjadi jujur dan sederhana.

Berinternet, bagi saya yang pertama adalah sarana bercermin. Kedua, jelas untuk melihat dunia.

08 Agustus 2008

Haiku

Berawal dari kegemaran menulis laporan jurnalistik, saya mulai menyukai cerpen-cerpen Hemingway yang sangat padat, positif dan ekspresif. Berburu naskah-naskah penulis Amerika itu saya lakukan dengan hati riang. Sampai akhirnya mampu membeli sebuah buku kumpulan cerpen Hemingway terbitan YOI.

Setelah itu,saya mulai menulis cerpen. Menulis dengan gaya Hemingway. Dan menulis cerpen pendek yang bernas ternyata sangat sulit dibanding menulis feature-feature jurnalistik meski sama-sama hemat kata. Selalu muncul kecenderungan untuk berpanjang-panjang. Tapi saya terus mencoba dan terus berlatih.

Sampai suatu saat saya membaca haiku. Sebuah puisi pendek karya pujangga besar Jepang yang saya tidak mencatat nama dan judulnya. Ketertarikan saya pada haiku semakin menjadi-jadi setelah saya merasa lelah mencoba belajar menulis cerpen dengan gaya Hemingway. Haiku yang juga hemat kata jauh lebih sulit untuk dibaca, dimengerti dan dirasakan. Namun pelan-pelan saya bisa menyelaminya. Intinya, haiku adalah puisi pendek yang mau menangkap alam dalam 3 baris puisi. Akibatnya, puisi ini bisa membawa pikiran dan imajinasi yang tak terbatas. Seolah-olah tak ada bingkainya. Saya merasa terbebaskan setiap kali membaca haiku.

Itu sebabnya saya lebih sering menulis puisi pendek meski belum bisa menulis haiku.

.

07 Agustus 2008

Mana Bunga Bambunya?

Suatu siang,kami berteduh di bawah rumpun bambu. Sangat teduh karena batang-batang bambu tinggi dan rimbun tajuknya.Teman saya berkata,bahwa rumpun bambu itu lebih tua dibanding umurnya sendiri. "Aku baru tahu kalau barongan ini umurnya lebih dari tiga puluh tahun!" ujarnya sambil menghitung, barangkali.

Saya sama sekali tidak berkomentar.Dia memang kelahiran desa setempat.Mungkin dia tahu persis,semasa kecil sering bermain-main di bawah bambu di tepi sungai kecil itu.Tentang bambu yang saya ketahui adalah manfaatnya bagi kepentingan manusia.Dari seniman sampai anak kecil, dari insinyur sampai pemabuk pasti pernah mengecap manfaat bambu.

"Kamu pernah lihat bunganya?Bisa bambu berbunga?" tanya saya.Waktu itu saya bangga karena bisa mengajukan pertanyaan seperti itu.Saya merasa mengajukan pertanyaan tepat.Dan pertanyaan itu membuka topeng saya.Saya tidak mengenal bambu!

"Coba cari lagi.Biasanya kamu sangat teliti."

Biasanya keindahanlah yang menandakan kehadiran bunga.Atau baunya.Tapi tak ada jejak yang saya tangkap.Di ketinggian batang-batang bambu itu saya hanya melihat kumpulan daun kering.Sangat aneh,daun-daun itu bisa berkumpul padahal sesamanya bisa tersebar dan bergerak ke sana ke mari oleh kekuatan angin.Tampak seperti sarang.

"Ada burung yang biasa bersarang di tajuk bambu?"

Tapi jawaban yang dia berikan sangat mengejutkan!

"Kamu sudah melihat bunga bambu!"

Sampai hari ini saya belum memastikan kebenaran pendapat teman saya itu.Saya memang membiarkannya jadi misteri untuk saya selami sepanjang hayat.Bambu, manfaat dan misterinya adalah kombinasi yang tepat,bukan?Akhirnya saya pilih bungabambu sebagai nama dan pengingat saya bila mengalami kejenuhan dalam berkreasi.